Tarik ulur upaya paket penyelamatan sektor finansial (bailout) antara pemerintah dengan DPR AS akan membuat perekonomian global tetap rawan terhadap potensi krisis.

Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Cornell, Amerika Serikat (AS), Iwan Jaya Aziz, efek domino dari krisis AS saat ini akan lebih terasa dibanding kondisi serupa saat terjadinya peristiwa 11 September 2001.

“Bangkrutnya sebuah perusahaan tidak akan terlalu memberi pengaruh terhadap perekonomian nasional AS yang memiliki fundamental ekonomi kokoh. Namun sebaliknya, bangkrutnya sebuah bank multinasional yang menopang tentunya mengguncang perekonomian nasional AS dan berimbas global,” ujar Iwan, dalam wawancara dengan Voice of Amerika, yang ditayangkan Metro TV, Kamis (2/10) lalu.


Perekonomian Eropa, lanjut Iwan akan mengalami dampak yang lebih berat karena institusi keuangan Eropa memiliki ekposure besar. “Imbas terhadap perekonomian Asia akan lebih minim, karena kredit macet yang terjadi di Asia tidak sebesar di Eropa dan AS,” ujar Iwan.

Sebagai perbandingan, pada 2007 kredit macet di Jepang mencapai US$8 miliar, sementara di AS mencapai US$1,3 triliun. Kendati demikian, perekonomian Asia akan tetap mengalami imbas seiring pengalihan likuiditas para investor AS ke negaranya.

“Hal ini terjadi karena pasca krisis Asia 1997, banyak lembaga keuangan Asia jatuh ke tangan investor AS. Sebagai contoh, saat ini mata uang Won Korea jatuh karena investor asal AS di negara itu mengalihkan dananya ke pasar AS. Hal ini juga berpotensi terjadi di belahan dunia manapun yang terkait dengan AS, termasuk Indonesia,” pungkas Iwan.